Selasa, 08 Agustus 2017

Selasa, 30 Mei 2017

Manaqib Tuan Guru Zainal Ilmi Al-Banjari

Tidak ada komentar:

Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari dilahirkan pada juma'at malam  sekitar pukul 04.30 wita, 7 rabiaul awal 1304 H.di desa dalam pagar Martapura.Beliau merupakan juriat dari Tuan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dimana ayahnya bernama H.Abdus Shamad bin H.Muhammad Said Wali,merupakan keturunan ke empat Syech yang lebih terkenal dengan nama datu kelampayan,sedangkan ibunya bernama Hj.Qamariyah.
     
         Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari sejak kecil sampai dewasa mendapatkan bnyak bimbingan ilmu dari keluarganya yang sangat kental dengan tradisi religius islam,sehingga iman dan tauhid terbina dan terpelihara dalam dirinya,mempunyai ahlak yang terpuji santun dalam berbicara serta benteng yang kokoh dalam menegakkan perintah Allah SWT.dan senantiasa terhindar dari perbuatan sia sia.Selain itu dari sejak kecil Tuan Guru Zainal Ilmi sudah mempunyai ciri menjadi ulama sebab beliau memeliki akhlak yanag mulia yang tercermin dalam sikap dan perbuatan.
          Sejak kecil itu pula,beliau menyibukkan diri dengan mengisi hari harinya dengan menuntut ilmu dan beribadah memelihara waktu dan mengerjakan ibadah-ibadah,memelihara dan mengerjakan ibadah iabadah sunat,menghindaridiri dari perbuatan syubath,adapun tuan Guru Zainal Ilmi dalam menuntut ilmu diantar Gurunya adalah orang tuanya sendri Tuan Guru Abdus Shamad,padanya beliau belajar Arabiyah,fiqih,dan hadisselama kurang lebh 6 tahun,kemudian kepada Tuan Guru Muhammad Amin bin Qadhi H.Mahmud,Syech abdurahman Muda.Tuan Guru H. Abbas bin Mufti H.abdul djalil,Tuan Guru Abdullah bin Guru H.Muhammad shaleh,Tuan Guru H.Muhammad Ali bin Abdullah Albanjari,Tuan Guru H.Khalid,Tuan Guru H.Ahmad Nawawi,serta Tuan Guru H.ismail dallam pagar martapura (ayah dari KH.rRahman ismail,mantan kepala menteri agama kabupaten banjar),Tuan Guru Ahmad Wali kuin bajarmasin(murid H.Masaid Wali,kakek dari Tuan Guru KH>Zainal Ilmi).
           Dari Guru2nya tersebutlah Tuan Guru  Zainal Ilmi mendapatkanilmu pengetahuan agama yang kemudian beliau amalkan dalam kehidupan sehari-hari.Muenurut suatu Riwayat Tuan Guru Zainal ilmi Albanjari adalahKhalifah dari Mufti indaragiri riau,yakni Syech Abdurrahman Siddiq Albanjri atau lebih dikenal dengan (datau sapat).ketika Syech Abdurrahman Siddiq Albanjri hendak berangkat ketembilah riau,beliau ditanya oleh seseorang dikampung dalam pagar "siapakah pengganti Guru dikampung ini"..?kemudian Syech abdurahman Siddiq menjawab"Anang Ilmi ( Tuan Guru  Zainal Ilmi Albnjari)penggantiku."sambi menepuk bahu Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari.

         Kedermawanan Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari
     
                   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari memiliki perawakan gemuk dantidak terlalu tinggi.meskipun demikian beliau sangat di hormati dikalangan msayarakat dan kalangan ulama sendiri,sebab bukanlah ukuran jasmani yang mereka liat melainkan kedalaman ilmu yang dimiliki dan ahlak yang terpuji yang sungguh mempesona dan membuat orang2 memuliakannya.kemudian dari pada itu  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari memiliki jiwa sosial  yang sangat tinggi,hal ini terlihatbahwasanya beliau suka menyantuni pakir miskin dan janda janda tua.sunggguh betapa tinggi ilmu beliau hingga menyembunyikan siat kedermawananya semasa hidup hingga tiada orang lain mengetahuinya ,kecuali hanya Allah dan orang2 tertemtu saja yang mengetahuinya.konon diceritakan Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari membagi bagikannya ketika malam tiba secara sembunyi2 dan ketika  pagi menjelang,fakir miskin dan janda2 tua yang dibrikan sedekah kaget dengan rezki yang ada didepan rumah mereka. hal demikian terus menerus terjadi selama beliau masih hidup,namaun setelah beliau wafat,para fakir miskin dan janda2 tua tidak pernah lagi mendapatkan sedekah seperti biasanya.maka msyarakat pun menyadari akan kemulian jiwa sosial sang Guru yang dalam memeberi sedekahsaja ia tak mau menyebutkan namanya dan memperlihatkan.

Karomah  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari

   Memadamkan api dengan jarak jauh

Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari tiadak saja memiliki keilmuan tinggi dan ahlak yang mulia,namun beliau memiliki segudang keistmewaan diantaranya karamah  yang biasanya nampak pada wali-wali Allah SWT,diantarnya terjadi pada saat beliau mengajar murid-muridnya  di kediaman beliau,ditngah2 pengajian beliau,berkata"berhenti sebentar "kemudian sang Guru masuk kedalam dan melepakan baju jubahnya kemudian beliau bergegas mengambil dua buah timba dan menuju sungai di depan rumah beliau,Timba itu diisi dengan air dan disiram ke jalan raya,satu tiba itu disiramkan kesebelah kanan dan satu timba yang satuny di siram kesebelah kiri,slesai melakukan hal tersebut,Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari kembali masuk kedalam rumah dan bertemu dengan ibunya.ibunya yang keheranan dengan tingkah laku sang anak pun bertanya kealakuan beliau tersebut, kemudian beliau pun menjawab dengan lemah lembut bahwa beliau telah menolong  orang yang terkena musibah  kebakaran.berselang beberapa hari setelah kejadian diluar akal tersebut,datanglah seseorang yang sengaja berkunjung kepada beliau dengan ungkapan yang mengagetkan orang lain yang mendengarnya,bahwa Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjarilah yang telah menolong memadamkan kebakaran suatua kampung, dikampung marga sari kabupaten tapin, dengan karamah beliau,...

Memenuhi hajat petani durian..

            Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari memiliki banyak karamah yang masih disimpan orang2 yang masih sejaman dengan beliau,begitu pula dengan cerita Turun temurun dari satu generi ke generasi lainnya,diantaranya di ceritakan diantaranya . Ada seorang petani yang mempunyai banyak pohon duren,namun pohon duriannya tersebut tak kunjung berbuah,hingga ia pun berhajat apabila durian miliknya berbuah,maka akan dihadiahkannya kepada   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjaritak berselang lama,kebuan tukang petani durian itupun berbuah.namun pohon durinnya hanya berbuah 3 bigi saja,maka si petani masih saja ingin menunaikan hajatnya untuk memberikan semua buahnya kepada   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari.kendati demikian,maksud hati ingin berjumpa dengan   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjariteernyata tidak kesampaian kerena banyaknya kesibukan pada si petani tersebut,dia pun kemudian menitipkan 3 buah durian tersebut kepada seseorang tetangganya yang kebetulan mau bersilaturahmi kepada  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari.

             ditengah perjalan orang yangdi amanahi buah tersebut rupanya tidak tahan menahan keinginan untuk mencicipi buah durian tersebut,Akhirnya orang itupun memakan satu buah durian yang diamanahkan,Agar aksinya tidak ketahuan,ketika sampai di Martapura ia pun membeli satu buah durian untuk mengganti buah yang diamakannya.Sesampai dirumah   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjariorang tersebut menitipkan buah yang diamanahkan oleh si petani.yakni 3 bigi buah durian yang satunya telah di ganti olehnya,  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjaripun menyambut baik tamu tersebut dan mengambil hadiah titipan dari petani,Uniknya,  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari hanya mengambil 2 buah durian,dan1 biji dibelah dan disuguhkan kepada tamunya tadi.ketika beliau menyugukan itulah   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari berkata "Bagaimana rasanya dengan durian yang kamu belah dan kamu makan dalam perjalanan tadi,,,?" mnias mana dengan yang ini..?"
saat itulh sang tamu menyadari bahwa orang yang ditemuinya bukan orang sembarangan.bahwasanya beliau adalah orang yanag kasyaf dan diberi keistimwewaan oleh Allah SWT.Walaupun dirinya memakan dan mengganti durian itu menjadi 3 biji namaun   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari mengetahuinya,,Subhanallah..

Wafatnya Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari
         
                Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari dimasa hidupnya juga pernah diangkatnya sebagai penasehat badan pemulihan keamanan daerah kabupaten Banjar sekitar tahun 1956,ketika terjadi pemberontakan Ibnu Hajar.Setiap jum'at beliau memberikan ceramah kpada maysarakatyang terpengaruh dengan pemberontakan tersebut.Menjelang Wafatnya   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjarimasih menyempatkan waktu berdakwah,sebagaimana diceritakan,pada waktu itu beliau ada jadwal mengisi ceramah di Karang Intan.padahal   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjarisudah ttau kewafatannyakian dekat.sebab beliau menyuruh seseorang kepada mertuanya,mengabarkan kepada istrinya yang telah menginap dsana agar segera pulang kerumah.dengan pesan singkat dari  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari"lakasi bulik kena kada sampat"selainin itu pula sebelum berangkat ke Karang Inatanuntuk berdakwah,beliau berkata kepada orang yang ada diwaktu sekitar itu"nanti bnyak orang "tak lama setelah itu beliau berangkat ke Karang intan.setelah acara tersebut itu selesai,  Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjarimendadak sakit dan berunjung wafatnya ditempat dakwahnya,Karang Intan,pada hari jum'at pada tanggal 13 djulkaidah 1375 H bertepatan dengan 21 juni 1956 pada pukul 12 siang.. Subhanallah...
             
                Ketika wafatnya   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjaritersebut musim kemarau,tanah dan sungai kering,sehingga untuk dimakamkan di desa Kelampayan disamping orang tuanya mendapatkan kendala,sebab untuk kekalampayan pada saat itu harus menggunakan jalur sungai sedangkan suangai sebagai sarana transportasi iyu idak bisa digunakan kerena kekeringan yang melanda,Dngan demikian muncullah inisiatif untuk memakamkan   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari ditempat lain,seperti didesa Dalam Pagar,adapun juga ingin dimakamkan ditaman mkam Pahlawan Bumi kencana oleh inisiatif ABRI,sebab dianggap sesepuh angkatan bersenjata.semua usulan tersebut disambut oelah ahli waris,namun ahli waris tetap menginginkan jasad beliau dimakamkan dengan datuknya Syekh Muhammad Arsyad Albanjari,kendati dengan hal yang mendekati tidak mungkin pada saat itu. Allah SWT berkehdak lain,tak disangka dan tak diduga jum'at mlam hujan turun dengan derasnyasehingga sungai yang dulu kering menjadi berair hingga bisa dilewati perahu yang membawa jenasah dan rombongan sanak keluarga yang mengiri jenazah   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari.dan pada hari sabtu 14 djulkaidah 1375 H dengan suasana yang penuh Hikmat jasad beliau dikebumikan disampinh makam orang tuanya Tuan Guru H.Abdu Shamad di kelampayan berdekatan dengan Datuknya Syekh Muhammad Arsyad Albanjari

       Akhir kalam itulah sepenggal kisah dari Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari yang kita cintai semoga   Tuan Guru Zainal Ilmi Albanjari ditinggikan derajat beliau dan diterima segala Amal kebajikan beliau semasa hidup..dan Akhirnya ulun dari penulis Muhammad Rasyidi yang fakir dan haus akan rahmat Allah SWT memohon ampun dan maaf apabila didalam penulisan terdapat kata2 yang salah atau janggal mohon dimaafkan..dan tak lupa pula kita haturkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Sayyidina Muhammad yang atas beliaulah kita dapat memeluk agamislam yang membawa kita kejalan yang benar. Wassalam ..

Sumber :  http://rindurasul2.blogspot.com/

10 Amal Ibadah Pada Bulan Puasa (Ramadhan) Sesuai Sunnah Rasul SAW

Tidak ada komentar:
Bulan Ramadhan bagi umat muslim seluruh dunia merupakan bulan penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai amal perbuatan dapat menjadi pahala yang berkali lipat. Bahkan pada posting sebelumnya telah diceritakan bagaimana tidurnya orang yang berpuasa dibulan Ramadhan adalah pahala.Maka dari itu, merupakan hal yang sia-sia jika pada kesempatan bulan Ramadhan ini kita tidak berlomba-lomba mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Umur seseorang hanya Allah SWT yang mengetahuinya, selagi kita masih bertemu bulan Ramadhan bulan seribu bulan ini, sangat beruntung bagi umat muslim yang mau menjalankan sunah-sunah demi mengejar pahala.

Nabi besar kita, Muhammad SAW telah mencontohkan kepada umat amalan sunah-sunah yang dapat dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Jadi apalagi yang kita tunggu? Berikut ini beberapa sunah ibadah sesuai sunnah Rasul SAW.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]

Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan selama bulan puasa ramadhan sesuai sunnah rasul saw:

1. Menyegerakan Berbuka Puasa

Apabila telah datang waktu berbuka puasa, hendaklah menyegerakan berbuka, karena didalamnya terdapat banyak kebaikan. Rosulullah SAW bersabda :

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ – رواه الشيخان
“Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Melaksanakan Makan Sahur

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِى السَّحُرِ بَرَكَةٌ – الشيخان –

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Membaca Al-Qur’an (Tilawah)

Ayat Al-Qur’an diturunkan pertamakali pada bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah SAW sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain.

Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.

Buatlah target untuk diri anda sendiri. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka misalnya di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Hal ini bisa juga dijadikan program unggulan bersama keluarga.

4. Memberikan Makanan Berbuka Puasa (Ith’amu ath-tha’am)

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ – صحيح النسائى و الترمذى
“Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu” (Shohih Nasa’i dan Tirmidzi)

Amal ibadah mulia ini dapat Anda manfaatkan bersama tetangga atau anak-anak yatim yang bermukim disekitar rumah Anda. Memberikan makanan ini hanya satu contoh yang dapat kita terapkan dalam hal berbagi rezki kepada sesama umat. Hal ini juga perlu dibiasakan, agar setelah selesai bulan Ramadhan, hal ini tidak punah begitu saja.

5. Berdakwah

Jangan sia-siakan momen Ramadhan kali ini. Sepanjang bulan Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah karena pastinya suasana Ramadhan sudah sangat terasa dimana-mana dan tiap orang siap menerima nasihat.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung” (TQS. Al-Imran[3] : 104)

Namun pastikan jika Anda memberi nasihat haruslah ada dalilnya. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.”

6. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan)

Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Dan yang paling penting diingat ialah shalat tarawain dapat dilakukan dirumah sekalipun.

Rasulullah saw pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib karena semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah. *Baca Juga: Etika Shalat Tarawih & Witir

7. I’tikaf

Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

ayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”

8. Lailatul Qadar

Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah saw. mengajarkan kita sebuah doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.

9. Umrah

Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya berlipat-lipat. Rasulullah SAW. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Bertaubat

Selama bulan Ramadhan, Allah SWT membukakan pintu ampunan bagi seluruh hambanya. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.

11. Zakat Fitrah

Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.

Itulah beberapa amalan ibadah mulia yang diajarkan oleh Nabi besar kita Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan. Semoga kita dapat mengerjakan semua amalan ibadah tersebut dengan niat ikhlas dan mengharap ridho HANYA dari Allah SWT. Amiin.

Sumber: http://duniaislam.kangismet.net/, http://sunnahrasulsaw.wordpress.com/, http://www.pesantrenvirtual.com/

Manaqib Tuan Guru Zaini bin Abdul Ghani

Tidak ada komentar:

Segala puji serta syukur kita panjatkan kehadirat Allah dan tidak lupa sholawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi besar Sayyidina Muhammad saw atas berkat dan beliaulah yang membawa kita ketempat terang benderang yaitu agama-Nya Islam.
A 'lam ketahuilah olehmu bahwasanya perjalanan riwayat hidup Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) amatlah panjang,maka hamba pendekkan setengah hamba tinggalkan kerena takut akan kemegahanan yang berlebih2an dan hamba menyusun riwayat hidup Almukarram didalam lembaran kertas (guru hudhari),dan saya publikasikan lewat blog ini hanya semata2 untuk mengambil berkah Auliya Allah dan lagi pula supaya turun rahmat atas orang yang membacanya,seperti sabda nabi "dibaca hikayah karamah auliya Allah itu di turunkan oleh Allah beberapa rahmat" ...
Syahdan sebesar-besar nikmat Allah SWT atas orang banjar kalimantan,bahwa diturunkanya seorang alim ulama yang menghimpunkan antara ilmu zhohir dan ilmu batin yaitu AlAlim AL-Alamah KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni Albanjari ( Guru Sekumpul ).
Adapun Silsilah beliau yaitu :
Almukarram Al-Alim Al-Alamah KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni bin Abdul Ghani bin Manaf bin Seman bin Muhammad sa'ad bin Abdullah bin Mufti khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Maulana Assyech Muhammad Arsyad Albanjari..

Telah berkata  Almukarram bahwa nama diwaktu kecilnya adlah Qusyairi,beliau selalu berada disamping kedua orang tuanya dan neneknya yang bernama salbiyah yang memeliharanya dan mendidiknya dengan penuh kasih syang hingga tertanamlah ilmu tauhid didalam dirinya.
sepenglihatan hamba selama masa bergaul bahwa beliau adalah orang berahlak tinggi lagi mulia walaupun beliau miskin dalam penghidupan namun tiaa mengeluh atau mengadu2 kepada keluarganya.

Syahdan dan adalah hal hobinya memebaca Alqur'an,itu sudah menjadi amaliyahnya dan pernah mengikuti jamaah alqira dimartapura,termasuk orang yang terbaik dan terkemuka,dan Almukarram adalah orang yanag hafiz Alqur'an.Dan pernah terjadi dikampung melayu tengah dimushalla hamba yang mana pada setiap tanggal 27 pada malam bulan ramadhan mengadakan khataman Alqu'an dan itu sudah menjadi adat turun temurun maka Almukarram Guru Sekumpul di Undang oleh tuan Guru H.Anang Sya'rani untuk membacakan Ayat2 suci Alqur'an dikala Almukarram membacakan surat Annur maka banyaklah para hadirin yang kagum dan diantaranya ada yang menangis mengeluarkan air mata karena mendengarkan bacaan beliau.
Dan lagi dari perkataan beliau,dimasa belum Baligh dan sampai Baligh di pimpin secara rohani oleh Al-Alamah Ali Janid (Barau),dan oleh Al-alamah Al-Fadil H.abdurrahman Shidik Safat ( Tambilahan ),dan oleh Al-Alim Al-Alamah H.syarwani Abdan ( bangil ) kemudian diserahkan kepada K.H.Abah Falak kemudian Abah Falak menyerahkan kepada Sayyid Muhammad bin Amin Khutbi,dari sayyid MUhammad Amin khutby inilah beliau banyak mendapatkan Syair2 qhosidah dan lagi Almukarram dapat pimpinan ruhani oleh maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari dan selanjutnya langsung dipimpin oleh sayyidul Ambiya'i wal mursyalin sayyidina Muhammad SAW.

Dan disaat beliau berumur 14 tahun dibukakan hijab oleh Allah Ta'ala ketika membaca tafsir Alqur'an "wakanallah sami'an bashira".dan adalah halnya selalu sabar dan ridha dan kasih sayang dan tidak pemarah dan sangat pemurah,walaupun dipukuli oleh orang yanag hasud dan dengki yang jumlahnya banyak namun beliau tidak pernah mengadu2kan kepada orang tuanya atau keluarganya bahkan beliau terima semua itu dengan sabar dan ridho kepada Allah SWT.

Dan hal lagi pernah menembak burung dengan senapan angin,manakala sampai dipadang karang tengah mendengarlah beliau akan suara zikir "LA ILAHA ILLALLAH"maka almukarram terus berjalan naik kekampung karang tengah untuk mencari suara asal suara zikir itu,ternyatazikir itu berasal dari makam TUan Guru H.Abdullah Al-khotib maka langsunglah beliau berjiarah maka setiap tengah malam bulan terang lazimlah beliau berziarah.
           
Dan penah pula terjadi beliau melihat seprti lampu strongkeng terang naik keatas kemudian menyebarang turun dimakam kuburan jamaah Tuan Bajut danTuan Biduri,Al-alamah Abdul Wahb bugis dan fatimah,dan dimakam Al-Alamah KH.Muhammad Syaid Wali bin Muhammad Amin di kerang tengah dan beliau istiqomah berjiarah didua makam itu pada tia2 malamtersebut atau setengah dari karamatnya.

Dan halnya suka bersilaturahim menemui orang2 tua dikampung,dan beliau adalah termasuk orang yang muhibbin cinta kepada orang yang Alim dan orang yang Shaleh sperti Al-Arifbillah H.Zainal Ilmi bin H.somad Albanjari da pagar yang mana setiap kali beiau hendak pergi ke banjar pada hari2 tertentu maka Almukarram menunggu2 untuk bersalaman mencium tangan Guru Zainal Ilmi.

Dan pada tahun 1958,Almukarram telah berhodim kepada tuan Guru H.Baruddin di mejalis maulud Alhabsy pada tiap malam jum'at dan beliau keluar membawakan jamuan miunuman dimejelis tersebut.,dan di tahun yang sama beliau pernah menemuai hamba (guru Hudhari) didalam kelas hendak meminjam kitab faraid tahafatus saniah utk menyalin menulis.dan pada tahun 1959 guru hudari tamat darussala,,kemudian pada tahun 1960,Guru hudhari di surah oleh Tuan Guru H.Semman Mulia untuk balas budi ( mengajar )didarussalam,sedangkan Almukarram Zaini Abdul Ghani baru lulus setahun kemudian,dan teman sekalasnya yaitu Guru Mudahr sungai tuan.

Setelah Almukarram Zaini Abdul Ghani tamat di darussalam pada tahun 1961 belaiau menueruskan mengaji kitab kepada Tuan Guru H.Sya'rani Arif dikampung melayu kitab fiqih dan tafsir dan disuruhkan mengajar didarussalam martapura.kemudian tidak berapa lama beliau beristirahat dan istiqamah dirumahnya dan beliau membuka majelis maulid sambil membaca kitab2.pada tiap2 malam selasa hadis,dan malam rabu tafsir dan siang hari rabu ihya alumuddin.dan beliau suka memberi makan jamuan pada tiap2 setiap tamu yang datang kerumahnya dan suka berhadiah uang kepada siapa yang dikehendakinya apalagi di hari pengajiannya.,dan setiap pengajian hari rabu beliau memberi makanan nasi dan minuman terkadang roti.

Dan lagi perkataan Abah Guru Sekumpul bahwa beliau pernah bermimpi  bertemu sayyidina hasan dan husin yang keduanya memberikan pakaian dan memasangkan kepada nya lengkap dengan surban kemudian keduanya memberikan nama Zainal Abidin,setelah bangun beliau menghabarkan akan mimpinya itu kepada ayahnya kemudian ayahnya mengubah nama beliau yang dulunya Qusyairi menjadi Muhammad Zaini.dan lagi dari perkataan beliau bahwa ia belajar mnegnai nur muhammad kepada Al-Alim Al-Alamah Muhammad bin Salman Alfarasi (guru Gadung)atas petunjuk dari Al-Alim  Al-Alamah Ali janid (barau)dan lagi Almukarram berkata bahwa aku mendapatkan khususiyat dan anugerah dari Allah Swt berupa kasyaf hissi malihat dan mendengar apa2 yang terdinding.

Dan pada ketika sewaktu halnya Almukarram bejalan maka rerumputan,batu dan puhun memberi salam serta menyebutkan manfaat2 dan kelebihan kepada beliau seperti untuk keprluan pengobatan dan lainnya maka itulah setengah dari pada karamah Abah Guru Sekumpul.

Dan adapun Almukarram itu suka menghidupkan kembali amalan2 dan tariqat yang iamalkan oleh maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari.kerna itu mejelis yang beliau pimpin baik mejelis ilmu atau mejelis amaliah sperti mejelis Syech Abdul Qadir Aljailani yang selalau dipenuhi oleh para penuntut ilmu yang semakin hari semakin bertambah2.baik dari dalam negeri ataupun dari luar negri.

Dan adalah halnya lagi suka membaca maulid nabi SAW setiap malam Senin bersma orangbanyak dalam mejelis Amaliayah yang mana hadir pada waktu itu jamaah dari berbagai kalangan,baik dari kalangan masyarakat biasa sampai para pejabat rendah dan tinggi.baik didalam daerah maaupun di luar daerah yang mana jumlahnya puluhan ribu,hal ini disebabkan kerna mereka itu cinta dan sangat menyayangi serta menghormati beliau.
Dan pada setiap malam jumat beliau membaca dalail khairat dan qosidah burdah serta maulid Ajab bersama orang banyaksebagai mana malam senin.dan setiap kali beliau membaca maulid rasul (simtudduror)karangan Habib Ali bin Muhammad bin Husin Alhabsysi atau maulid alajab karangan Syech Muhammad Alajab beliau tiada lupa menyertakan pada permulaan atau pertengahan atau penghabisan akan membaca Qasidah2 yang mubarrak dan jarang jarang di tinggalkannya.kerena membaca membaca qosidah2 yang mubarrak itu itu memang sudah hobinya sejak kecil.

Dan pada tahun 1992 Almukarram Muhammad Zaini Abdul Ghoni minta bukakan kepada  kpada hamba (Guru hudari) pelatihan untuk mempelajari terbang Maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari di seekumpul yaitu ya Syehona ya Semman ... hingga berhasil selesai tamat.dan setiap kali mengadakan haul Syech Semman Almadani di mushalla Arraudah maka dilasanakan dan digunakan terbang besar oleh Abah Guru Sekumpul.

Dan pada tahun 1996 hamaba ( Guru hudari) berada dimekkah untk menunaikan  ibadah Haji maka hamba diminta  oleh Habib Ahdal mekkah bermalam di rumahnya dan Almukaram telah menelpon kepada hamba menghabarkan bahwa beliau akan mengadakan haul Syech Seman Almadani di sekumpul secara besar2an yaitu haul Akbar.maka hamba sangat terharu dan sewaktu hamba tawaf di baitullah telah nampak hamba melihat dangan nyata bahwa Almukarram Muhammad Zaini Ghani berjalan tawaf dihadapan hamba maka ketika sampai dihadapan hajar aswad tiada dapat hamba lihat lagi akan beliau.kemudian hamba habarkan kejadian itu kepada beliau melalui telpon maka jawabnya jangan dihabarkan kepada orang2 yang terjadi itu,maka didalam lembaran kertas ini terbuka lah kejadian tersebut.

Dan pula adalah halnya suka membina membangun kubah2 seperti dikarang tengah kuburan Tuan Bajut,Tuan Biduri,Al-alim Al-Alamah H.Abdul wahab bugis,dan fatimah dalam suatu Kubah dan Kuburan Al-Alim Al Alamah KH.Muhammad Sa'id Wali bin Muhammad Amin dan setelah itu kemudian Almukarram telah membeli tanah yang luas spenjang jalan untuk jalanan masuk kubah Al-Alil Al Alamah Fail H. Abdullah Alkhotib di seberangannya.

Dan pula halnya Almukarram termasuk pelopor pembangunan komplek pembangunan makam Maulana Syech MUhammad Arsyad Albanjari yang dibangun sejak tanggal 13 safr 1417 H pertepatan tanggal 29 juni 1996 M.bersama denagan pengurus yayasan ikhuwat  Juriat Maulana Syech Muhammad Arsyad Abanjari yang mana pada waktu itu di ketua oleh H.Salmani bin Al-Alim Alfadil H.marjuki bersama KH.Muhammad Zayadi bin Ahmad selaku sekretaris.

Dan pada perkataan Almukarram sebagai amanah kepada pelaksana pembangunan,kalau handak mengumpulkan dana keuangan cukup menunggu di kubah saja jangan meminta minta atau menjalankan kotak sumbangan.. Alhamdulillah segala gagasan beliau setelah dilaksnakn oleh penitia pembangunan semuanya berjalan dengan lancar dan sumbangan selalu berdatangan baik dari dalam daerah mauapun luar daerah dan dari segala macam kalangan sehinnngga dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun pada tanggal 2 sya'ban 1418 H,bertepatan pada tanggal 2 desember 1997 selsai sekaligus peresmian pembukaan mejelis ta'lim sabilal Muhtadin oleh Guru Sekumpul bersama gebernur H Hasan Aman,pada malam rabu di ruang tengah komplek makam tersebut.

Syahdan Al Mukaram  Zaini Abdul Ghani dilahirkan di tunggul irang martapura pada malam rabu jam setengah dua,pada tanggal 27 muharram tahun 1361 H. dan telah wafat pada pagi dini hari rabu (waktu subuh) tanggal 5 rajab 1426 H.bertepatan pada tanggal 10 agustus 2005.
demikianlah hikayat dan riwayat Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)...

Diambil dari buku Riwayat Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Albanjari yang disusun dan dikarang oleh Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Hudhari  bin Hasnah binti Al-alim Alfadil H.Abdullah Alkhotib bin AlAlim Alfadil H.Muhammad sholih bin Khalifah H.hasanuddin bin AlAlim Al-Alamah Assyech Muhammad Arsyad Albanjari (Datu kelampayan).

Akhirnya saya yang menulis kembali Atas menakib yang dikarang oleh Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Hudhari  memohon ampun dan maaf apabila ada salah dan khilaf baik yang disengaja atau tidak disengaja kerna saya merasa banyak sekali kekurangan dalam diri saya yang hina ini.kerana kesempurnaan hanyalah milik Allah Semata dan diperlihatkan oleh Allah ksempurnaan itu Dalam bentuk Rasullullah,Rasulullah lah sebagus bagusnya mahluk....

"Semoga Allah menurunkan Rahmat pada kita sekalian baik penulis maupun pembaca agar selalu dilimpahi rahmat serta kasih sayang oleh Allah berkat Abah Guru Sekumpul"

 آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنَْ

Terimakasih : http://rindurasul2.blogspot.com
Sumber : http://rindurasul2.blogspot.com/2012/04/menakib-abah-guru-sekumpul.html

Manaqib Syekh Samman Al-Madani

Tidak ada komentar:

Syekh Samman Al-Madani adalah beliau Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Qadiri Al-Hasani di lahir kan pada tahun 1132 H, di Madinaturrasul (Syahdan) adalah nama beliau Sayyidi Syekh Samman itu dari pada lauhil mahfuz dan setengah dari pada WAZAN MAHDI menyebut kan yang demekian itu di dalam kitab THABAQAT bagi Sayyid Ahmad As-Syarnubi, maka lihat lah di dalam THABAQAT nya itu.

Adalah ta'biat sayyidi Syekh Samman RA, kasih sayang kepada orang yang thalibul ilmu dan kepada orang yang sholih, dan kepada orang yang faqir dan miskin dan lagi pula suka berkhidmah kepada orang yang ziarah ke makam Rasulullah SAW daripada orang yang ‘alim dan orang yang sholih dari pada orang awam dan khawwas.

Ta'biat SAYYIDI SYEKH SAMMAN selagi kecil hingga pada mursyid : adalah beliau sangat memuliakan kedua orang tua beliau, lagi pula mengekalkan musyahadatu wujud dan muraqabah dan ‘ibadah hingga beliau meninggalkan daripada adat dan melawani hawa nafsu beliau hingga dari pada yang halal sekalipun, dan tidaklah beliau tidur kecuali sedikit jua, dan apabila di beri bantal oleh orang tua beliau maka keluh kesahlah beliau seperti orang yang sakit, dan apabila sampai pada waktu syahur beliau bangun dan membaca ratib syahur lalu sembahyang Shubuh berjama’ah dengan orang banyak lalu membaca ratib subuh hingga terbit matahari, dan apabila terbit matahari maka bangkitlah beliau untuk sholat sunat Isyraq dua raka’at, dan apabila naik matahari seperempat maka bangkitlah beliau untuk sholat Dhuha, dan lagi pula adalah beliau membanyak akan puasa sunnat dan riyadhah dan menjauh kan dari bersedap dari lezat nya dunia sampai daripada yang halal sekalipun, dan adalah hal ihwal ini adalah hal jeada’an beliau semasa kecil beliau yakni sebelum balig nya.

Pada masa itulah beliau disuruh orang tuanya masuk ke dalam shiwan (tempat makan) untuk diberi makan makanan, mana kala selesai makan dilihat oleh orang tuanya tempat ia makan seolah-olah tak dimakan beliau, dan pergilah orang tuanya kepada guru mengaji al-qur’an semasa kecilnya untuk mengabarkan hal ihwal anaknya, maka dijawab oleh gurunya janganlah engkau takut akan anakmu itu, tidak salah lagi bahwa ia adalah Aulia Allah dan tidak khilaf lagi antara ulama, dan adalah sayyidi Syekh Samman apabila melihat orang tua nya memakai pakaian yang indah atau memakai pakaian yang dilarang syara’ maka di katakan kepadanya wahai orang tua ku tidaklah suka Tuhan kita kepada orang yang bersuka-ria didalam dunia ini, demikianlah hal ihwal masa kecil beliau.

(Syahdan) adalah Sayyidi Syekh Samman Al-Madani selalu dalam dzikir siang dan malam serta suka ber’ujlah (bersunyi dari manusia) dan masuk khalwat, dan melajimkan ziarah ke baqi’ yakni pekuburan para istriistri Rasulullah, di Madinaturrasul ,

Hal ihwalnya Sayyidi Syekh Samman Al-Madani pada masa bidayahnya yakni masa awal permulaan dia menjalani akan jalan tasawuf beliau berpakaian dengan pakaian yang indah, kemudian datang Sayyidi Syekh Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani membawa baju jubah putih padahal adalah sayyidi Syekh Samman dalam kamar khalwat beliau dan memakailah akan baju jubah itu sampai sekarang, dan adalah beliau sa’at itu menyembunyikan ilmu dan amal beliau hingga datang hadhdharurrasul memerintahkan untuk menzahirkannya, maka zhahir lah lebih zhahir dari matahari di tengah hari, dan berdatanganlah orang” untuk mengambil bai’at thariqat kepada beliau.

Perkataan Sayyidi Syekh Samman Al-Madani ialah :
• Barang siapa membaca ” Allahummagfir li ummati Sayyidina Muhammad, Allahummarham ummata Sayyidina Muhammad, Allahummastur ummata Sayyidina Muhammad, Allahummajbur ummata Sayyidina Muhammad” sebanyak 4 kali sesudah sholat Shubuh sebelum berkata-kata urusan dunia halnya dia istiqamah adalah dia menempati martabat fadilah qutub.

• Barang siapa mengambil tariqat kepadaku dan mengamalkannya niscaya pasti ia akan mendapatkan rasa majzub didalam dunia (diambil oleh Allah SWT aqal nya yang basyari’ah diganti dengan aqal yang bersifat rabbaniyah) yakni diambil oleh Allah akan rasa punya wujud dan sifat dan af’al diganti dengan rasa ‘adam mahdhah adam semata” yakni tiada punya wujud, sifat dan af’al melainkan hanya Allah SWT yang punya wujud haqiqi, minimal sa’at sakaratul maut’ nya.

• Perkataan aku ini seperti perkata’an Sayyidi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani “Barang siapa yang menyerukan aku Ya Samman 3 kali hal keadaannya mendapat kesusahan, niscaya datang aku menolonginya.

Karomah Sayyidi Syekh Samman teramat banyak dan sebagian karomah Sayyidi Syekh Samman yang di riwayatkan Mufriin bin Abdul Mu’in dengan katanya : "Ketika aku berlayar ke negeri hijaz manakala aku sampai ditepi laut, aku lihat mega hitam pekat dan datang angin tupan yang kencang hingga kapalku hampir tenggelam maka aku sangat takut, lalu aku berteriak sehabis-habis suara ” Ya Samman 3 kali Ya Mahdali” maka tiba tiba ada dua orang yang datang dan memegang kedua sisi kapalku dan redalah angin tupan itu serta sampailah aku ke negeri hijaz dengan selamat".

Sesorang untuk dapat fadhilah satu karomah Aulia Allah hendaklah ia yakin bahwa orang itu benar Aulia Allah dan tidak syak sekali dan jangan mungkir walaupun hal keadaannya menyalahi syara’ Khatim.

Sayyidi Syekh Samman meninggal dunia pada hari Rabu 2 Zulhijjah tahun 1189 H, dan di makamkan di Baqi’ berhampiran dengan kubur para Istri Rasulullah. Ini suatu fa’idah barang siapa yang melazimkan membaca Manaqib Sayyidi Syekh Samman (Ratib Samman) bersama orang banyak dan membaca Al-Qur’an serta bertahlil kemudian bersedekah semampunya dan pahalanya dihadiyah kepada Sayyidi Syekh Samman, niscaya dimudahkan rezqinya oleh Allah SWT.


Manaqib Syaikh Samman Al madani
Diposting oleh Cinta Wali

Manaqib Syech muhammad Arsyad Al-Banjari

Tidak ada komentar:

Syech muhammad Arsyad Al-Banjari lahir di Desa Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan pada 15 Safar 1122 H, bertepatan dengan 19 Maret 1710 M. Dia merupakan putra tertua dari lima bersaudara, ayahnya bernama ‘Abd Allah dan ibunya bernama Siti Aminah. Muhammad Arsyad lahir di lingkungan keluarga yang terkenal taat beragama. Kondisi lingkungan yang baik ini mempunyai andil yang besar dalam membentuk kepribadian Muhammad Arsyad selanjutnya.
Ketika dia berumur sekitar tujuh tahun, Sultan Tahlil Allah (1700-1745 M), penguasa Kesultanan Banjar pada waktu itu, meminta kepada orang tua Arsyad agar bersedia menyerahkan anaknya untuk dididik dan dibesarkan di lingkungan istana sekaligus diadopsi sebagai anak angkatnya. Keinginan ini dilakukan, karena Sultan tertarik dengan kecerdasan dan ketrampilan Arsyad muda ketika mengadakan kunjungan kerja ke Desa Lok Gabang. Meskipun ‘Abd Allah dan Aminah, orang tua Arsyad, sebetulnya merasa keberatan untuk melepaskan anak tertuanya itu untuk diadopsi sultan, namun mereka tidak kuasa untuk menolak maksud baik Sultan. Merekapun menyerahkan anaknya kepada Sultan untuk tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucu keluarga istana. Muhammad Arsyad tinggal di lingkungan istana Kesultanan Banjar ini selama sekitar 23 tahun, karena pada umur sekitar 30 tahun dia merantau untuk menuntut ilmu di Haramain; Mekkah dan Madinah. Ia belajar di Mekkah kurang lebih 30 tahun dan belajar di Madinah kurang lebih 5 tahun. Dia kembali lagi ke Banjar pada Ramadhan 1186 H/Desember 1772.
Sebelum berangkat untuk menuntut ilmu ke Mekkah dan Madinah, Muhammad Arsyad dikawinkan oleh Sultan dengan seorang wanita bernama Bajut yang ditinggalkannya dalam kondisi hamil. Istrinya ini melahirkan seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Syarifah, ketika Muhammad Arsyad masih berada di perantauan, sibuk menggeluti pelajaran-pelajarannya. Ketika Syarifah sudah beranjak dewasa, dia (sebagai wali mujbir) mengawinkannya dengan sahabatnya sendiri, ‘Abd Al-Wahab Bugis, sedangkan Sultan (sebagai wali hakim) juga menikahkan dengan seseorang yang bernama Usman (permasalahan ini dibahas lebih lanjut dalam pemikiran Syekh Arsyad dalam Ilmu Falak).
Sekembalinya dari tanah suci, Syekh Arsyad aktif melakukan penyebaran agama Islam di wilayah Kalimantan Selatan melalui jalur pendidikan, dakwah, tulisan dan keluarga. Dalam jalur pendidikan, dia mendirikan pondok pesantren lengkap dengan sarana dan prasarananya, termasuk sistem pertanian untuk menopang kehidupan para santrinya. Dalam jalur dakwah, dia mengadakan pengajian-pengajian umum baik untuk kalangan kelas bawah maupun kalangan istana. Dalam tulisan, dia aktif menulis kitab-kitab yang bisa dibaca hingga sekarang.
Sedangkan dalam jalur keluarga, dia melakukan dakwah dengan mengawini para wanita-wanita terhormat untuk mempermudah penyebaran Islam di masyarakat, sehingga dalam catatan sejarah, ada sebelas orang isteri dalam kehidupannya. Dia mengawini para isterinya tidak bersamaan dan tidak lebih dari empat orang dalam hidupnya, tetapi apabila salah seorang isterinya meninggal, dia menikah lagi dan begitu seterusnya. Syekh Arsyad dapat berlaku bijaksana dan adil terhadap para isterinya, sehingga mereka hidup rukun dan damai. Isteri-isteri Syekh Arsyad tersebut adalah:
1. Bajut; melahirkan Syarifah dan Aisyah.
2. Bidur; melahirkan Kadi H. Abu Suud, Saidah, Abu Na’im, dan Khalifah H. Syahab Al-Din.
3. Lipur; melahirkan ‘Abd Al-Manan, H. Abu Najib, alim al-fadhil H. ‘Abd Allah, ‘Abd Al-Rahman, dan alim al-fadhil ‘Abd Al-Rahim.
4. Guwat (keturunan Cina; Go Hwat Nio); melahirkan Asiyah, Khalifah H. Hasanuddin, Khalifah H. Zain Al-Din, Rihanah, Hafsah, dan Mufti H. Jamal Al-Din. Dalam perkawinan ini, Syekh Arsyad berusaha menyebarkan Islam di kalangan Tionghoa, dia tidak merubah nama isterinya untuk menunjukkan bahwa Islam tidak akan merubah tradisi mereka, asal tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam.
5. Turiyah; melahirkan Nur’ain, Amah, dan Caya.
6. Ratu Aminah; melahirkan Mufti H. Ahmad, Safia, Safura, Maimun, Salehah, Muhammad, dan Maryamah.
7. Palung; melahirkan Salamah, Salman, dan Saliman.
8. Kadarmik.
9. Markidah.
10. Liyyuhi, dan
11. Dayi, keempat isteri yang terakhir ini tidak memberikan keturunan (Kadir, 1976).
Syekh Arsyad melakukan dakwah di Banjar selama kurang lebih 40 tahun. Menjelang ajalnya, dia menderita sakit lumpuh, darah tinggi, dan masuk angin dan akhirnya dia meninggal dalam usia 105 tahun (hitungan tahun Hijriyah) atau 102 tahun (hitungan tahun Masehi). Sebelum meninggal, dia sempat berwasiat agar jasadnya dikebumikan di Kalampayan apabila sungai dapat dilayari. Namun apabila tidak bisa, dia minta dikebumikan di Karang Tengah, tempat isteri pertamanya, Bajut dimakamkan. Ketika dia meninggal, air sedang surut, maka wasiat pertamanya yang dilaksanakan. Dia meninggal pada 6 Syawal 1227 H/13 Oktober 1812 M dan dimakamkan di Kalampayan, Astambul, Banjar, Kalimantan Selatan (sekitar 56 km dari Kota Madya Banjarmasin).
• Riwayat Pendidikan
Muhammad Arsyad hidup di tengah-tengah lingkungan keluarga yang taat beragama, dan di sinilah, untuk pertama kalinya dia memperoleh pendidikan dan teladan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Di usia yang sangat belia (sekitar umur tujuh tahun), dia telah fasih membaca al-Qur’an. Karenanya, etika Sultan Tahlil Allah, penguasa Kesultanan Banjar pada waktu itu, mengadakan kunjungan kerja ke Desa Lok Gabang, Sultan tertarik dengan kecerdasan dan keterampilan Arsyad muda (7 tahun) dan meminta kepada orang tuanya untuk dididik di lingkungan istana dan dijadikan sebagai anak angkat. Di sinilah Muhammad Arsyad memperoleh pendidikan yang lebih berkualitas dari para guru yang didatangkan Sultan ke istana (Azra, 1998 dan Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1994).
Ketika Muhammad Arsyad berusia sekitar 30 tahun, Sultan Tahlil Allah mengirimkan dia ke Mekkah untuk menuntut ilmu dengan biaya istana. Dia belajar di Mekkah kurang lebih selama 30 tahun. Dalam kurun waktu yang panjang tersebut, dia tidak hanya mendalami ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti geografi, biologi, matematika, geometri dan astronomi. Kecintaan dan kehausannya terhadap ilmu, mendorong Arsyad untuk belajar lagi ke Madinah kurang lebih selama lima tahun kepada imam haramain, Syekh al-Islam Muhammad b. Sulaiman Al-Kurdi, seorang mufti Madinah dan Syekh Muhammad b. ‘Abd Al-Karîm Al-Sammani Al-Madani, seorang sufi besar. Azyumardi Azra (1998) menyebutkan kemungkinan, bahwa Syekh Arsyad juga belajar kepada Ibrahim Al-Ra’is Al-Zamzami, yang darinya dia mempelajari ilmu falak (astronomi), disiplin keilmuan yang nanti menjadikannya seorang ahli yang paling menonjol di antara para ulama Indonesia.
Ketika berada di Mekkah, Arsyad belajar bersama dengan tokoh-tokoh abad ke-18 lainnya; Syekh ‘Abd Al-Samad Al-Palimbani dari Palembang (Sumatera Selatan), ‘Abd Al-Wahab Bugis (Sadanring Daeng Bunga Wardiah) dari Ujung Pandang (Sulawesi Selatan), dan Syekh ‘Abd Al-Rahman Al-Masri Al-Batawi (Jakarta). Keempat serangkai ini adalah sama-sama murid seorang sufi besar, Syekh Muhammad b. Abd Al-Karîm Al-Sammani Al-Madani dari Madinah.
Pada mulanya, empat serangkai ini bermaksud untuk melanjutkan studinya ke Mesir, tetapi oleh gurunya, Syekh Muhammad b. Sulaiman Al-Kurdi, mereka disarankan untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Imam Haramain tersebut menilai bahwa bekal keilmuan mereka sudah memadai untuk membina umat di daerah-daerah tempat asal mereka, sehingga mereka tidak perlu lagi melanjutkan studi ke Mesir, lagi pula umat di kampung halaman masing-masing lebih membutuhkan pembinaan dari mereka (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1994). Namun, menurut Azyumardi Azra (1998) mereka memutuskan tetap pergi ke Mesir, tetapi hanya untuk berkunjung, bukan untuk melanjutkan studinya. Indikasi ini ditunjukkan dengan pemberian gelar kepada salah seorang teman Syekh Arsyad, Syekh ‘Abd Al-Rahman dari Betawi dengan gelar al-Mashri/al-Misry pada namanya.
Karir Keilmuan dan Pemikiran Syekh Arsyad
• Bidang Fatwa
Ketika Syekh Arsyad berada di Mekkah, beberapa tahun sebelum kembali ke Indonesia, karena kedalaman ilmunya dalam bidang keagamaan, dia diberi kepercayaan oleh gurunya, Syekh Atha’ Allah, untuk mengajar dan memberikan fatwa di Masjid al-Haram, tentu saja dengan bimbingan para gurunya. Persoalan yang mengemuka di sana antara lain masalah kedaerahan Banjar yang sering dipantau oleh Syekh Arsyad melalui surat menyurat, yaitu apakah Sultan Banjar berhak menghukum orang laki-laki yang tidak melaksanakan shalat Jumat dengan denda membayar sejumlah uang kepada sultan Banjar. Permasalahan ini juga ditanyakan kepada gurunya, Syekh Muhammad b. Sulaiman Al-Kurdi, sehingga permasalahan ini dimasukkan ke dalam Kitab Fatawa karangannya (Steenbrink, 1984).
• Bidang Ilmu Falak:
1) Kasus Arah Kiblat
Dalam perjalanan pulang dari Tanah Suci ke Indonesia, Syekh Arsyad tidak langsung pulang ke Banjarmasin, dia singgah dulu bersama sahabatnya Syekh ‘Abd Al-Wahab Bugis beberapa bulan di rumah sahabatnya, Syekh ‘Abd Al-Rahman Al-Masri di Jakarta. Selama di Jakarta, Syekh Arsyad sempat membetulkan arah kiblat masjid-masjid yang menurut pelajaran ilmu falak yang telah dipelajari dan menurut keyakinannya tidak tepat. Masjid-masjid tersebut di antaranya adalah: Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang, dan Masjid Pekojan. Dalam mihrab Masjid Jembatan Lima yang telah dibetulkan arah kiblatnya tersebut terdapat prasasti Arab yang menunjukkan bahwa kiblat masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Al-Banjari (Muhammad Arsyad) pada tanggal 4 Safar 1186 H/7 Mei 1772 M (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1994). Dalam masalah ini Syekh Arsyad berpendapat bahwa arah kiblat harus diperbaiki apabila arah tersebut terbukti tidak benar (Steenbrink, 1984).
2). Kasus Perkawinan
Ketika Syekh Arsyad masih berada di Mekkah, dia mendengar kabar bahwa anaknya yang bernama Syarifah dari isterinya, Bajut, sudah beranjak dewasa. Oleh karena itu dia mengawinkan anaknya tersebut dengan sahabatnya, ‘Abd Al-Wahab Bugis, dalam hal ini dia berperan sebagai wali mujbir yang mempunyai kuasa penuh untuk mengawinkan anaknya tanpa terlebih dahulu meminta ijin dari pihak anaknya.
Namun ketika Syekh Arsyad kembali ke Banjarmasin, ternyata Syarifah telah dikawinkan oleh Sultan dengan seseorang yang bernama Usman dan hubungan perkawinan ini telah melahirkan seorang anak, dalam hal ini sultan bertindak sebagai wali hakim, karena wali (ayah)nya dianggap uzur. Padahal dalam ketentuan fikih, kedua perkawinan ini dapat dianggap benar dan sah.
Untuk memutuskan permasalahan ini, Syekh Arsyad menetapkan dengan melihat masa terjadinya akad pernikahan; akad perkawinan yang lebih dahulu dilakukan, maka perkawinan tersebut yang dimenangkan. Berdasarkan keahliannya dalam bidang ilmu falak dan berdasarkan penelitiannya terhadap kedua perkawinan tersebut dengan mengaitkan perbedaan waktu antara Mekkah dan Martapura, maka dia mendapati bahwa akad perkawinan yang terjadi di Mekkah lebih dahulu beberapa saat dari pada perkawinan di Martapura. Berdasarkan penelitian ini, maka ikatan perkawinan antara Syarifah dan Usman dibatalkan, kemudian sahabatnya, Syekh ‘Abd Al-Wahab Bugis diresmikan sebagai suami Syarifah yang sah. Cerita ini dituturkan oleh Zafry Zamzam dalam Dr. Karel Steenbrink (1984).
• Bidang Pendidikan (Pesantren) dan Pertanian
Syekh Arsyad Al-Banjari datang ke Martapura (Ibu Kota Kesultanan Banjar) pada Ramadhan 1186 H/Desember 1772 M. Langkah pertama yang dilakukan di sana bukan menikmati kehidupan di istana Banjar, tetapi dia berusaha membina kader-kader ulama, terutama para keluarga dekatnya. Untuk mensukseskan rencana ini, dia meminta sebidang tanah kepada sultan Tahmid Allah (1187-1223 H/1778-1808 M), penguasa Kesultanan Banjar pada waktu itu untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, tempat pendidikan dan Islamic center (pusat pengembangan Islam). Sultan mengabulkan permintaan mulia dari Syekh Arsyad dengan memberikan sebidang tanah kosong yang masih berupa hutan belukar di luar ibu kota Kesultanan Banjar (Azra, 1998).
Syekh Arsyad menyulap tanah tersebut menjadi sebuah perkampungan yang di dalamnya terdapat rumah-rumah, tempat pengajian, perpustakaan dan asrama para santri. Semenjak itu, kampung yang baru dibuka tersebut didatangi oleh para santri yang datang dari berbagai pelosok daerah. Kampung baru ini berikutnya dikenal dengan kampung “Dalam Pagar”. Model pendidikan yang mengintegrasikan sarana dan prasana belajar dalam satu tempat yang mirip dengan model pesantren. Gagasan Syekh Arsyad ini merupakan model baru yang belum ada sebelumnya dalam sejarah Islam di Kalimantan Selatan. Selain itu di Dalam Pagar, Syekh Arsyad juga membangun sistem irigasi untuk mengairi lahan pertanian, sehingga untuk mengenang gagasannya ini, di dalam kampung Dalam Pagar ada daerah yang disebut dengan Sungai Tuan (Steenbrink, 1984).
Pesantren yang dibangun di daerah pelosok, di luar kota Martapura ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses belajar mengajar para santri; tenang, damai, akrab dan belum terkontaminasi dengan budaya-budaya perkotaan. Pesantren yang dibangun di daerah pelosok, selain berfungsi sebagai pusat keagamaan juga pusat pertanian, karena di sana Syekh Arsyad bersama dengan beberapa guru dan murid mengolah tanah di lingkungan itu menjadi sawah yang produktif dan kebun-kebun sayuran (Azra, 1998).
• Bidang Dakwah
Selain menciptakan sistem pendidikan model pesantren, Syekh Arsyad juga aktif dan gigih dalam melakukan aktifitas dakwah agama kepada masyarakat umum. Dalam aktifitas berdakwah ini, dia terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, baik masyarakat kota maupun masyarakat di kampung-kampung pelosok dan terpencil, baik kepada para keluarga sultan maupun kepada rakyat biasa. Dakwah yang dilakukan secara langsung kepada masyarakat ini disambut dengan sangat positif oleh masyarakat, sehingga masyarakat selalu berduyun-duyun menghadiri tempat-tempat dimana ada pengajian dan dakwah yang diselenggarakan oleh Syekh Arsyad untuk meramaikannya.
Kegiatan dakwah dan pengajian yang dilakukan Syekh Arsyad ini mempunyai arti penting bagi penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut ikut membentuk perilaku religius masyarakat banyak. Orang-orang yang datang ke pengajian tersebut, setelah kembali ke kampungnya masing-masing menularkannya dengan memberikan pengajian kepada orang-orang awam di kampung mereka. Serentak suatu kampung mempunyai seorang tokoh yang memberikan pelajaran agama dan membuat para warga sekitarnya bergairah untuk megikutinya, karena dalam benak masyarakat telah timbul kesadaran untuk selalu menambah pengetahuan agama mereka (Daud, 1997: 521).
• Bidang Tasawuf
Ketika belajar di Haramain, Syekh Arsyad tidak hanya mempunyai guru yang ahli dalam bidang fikih, tetapi dia juga belajar kepada guru yang ahli dalam bidang tasawuf, yaitu Syekh Muhammad b. Abd Al-Karîm Al-Sammani Al-Madani. Syekh Al-Sammani adalah seorang sufi besar yang sebelumnya masuk dalam tarekat Naqsabandiyah dan tarekat Qadiriyah, namun kemudian dia mendirikan tarekat sendiri yang diberi nama tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah merupakan gabungan antara tarekat Naqsabandiyah dan tarekat Qadiriyah yang ditambahi dengan qasyidah dan bacaan lain karangannya sendiri (Bruinessen, 1999). Dengan keikutsertaannya dalam tarekat ini, Azumardi Azra dan Oman Fathurrahman (2002) beranggapan bahwa Syekh Arsyad adalah orang yang paling bertanggung jawab atas tersebar dan berkembangnya tarekat Sammaniyah ini di Kalimantan.
• Bidang Kenegaraan
1) Pemberlakuan Syarî‘at Islam
Pemberlakuan Syariat Islam kepada seluruh masyarakat dan kesultanan perlu adanya kekuatan hukum yang bisa memaksakannya. Oleh karena itu, atas saran dan usulan Syekh Arsyad, dalam pemerintahan Kesultanan Banjar di berlakukan hukum Islam. Hukum Islam yang diterapkan di Kesultanan Banjar tidak hanya masalah-masalah yang berkenaan dengan hukum perdata, tetapi juga menerima masalah-masalah yang berkenaan dengan hukum pidana Islam; misalnya hukuman mati bagi pembunuh, hukuman potong tangan bagi pencuri, hukuman dera bagi orang yang berzina, dan hukuman mati bagi orang Islam yang keluar dari Islam (murtad) (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1994).
2) Pembentukan Mahkamah Syari’ah dan Jabatan Mufti
Guna mengefektifkan pelaksanaan hukum Islam di Kesultanan Banjar dan di masyarakat, maka diperlukan adanya lembaga yang khusus mengurusi dan menampung permasalahan pemberlakuan hukum Islam tersebut. Oleh karena itu Syekh Arsyad mengajukan saran untuk dibentuk Mahkamah Syari’ah, semacam pengadilan tingkat banding untuk model sekarang, setelah sebelumnya melakukan pembenahan-pembenahan di pengadilan agama dan mungkin juga di pengadilan umum (pengadilan tingkat pertama) (Steenbrink, 1984: 94).
Mahkamah Syari’ah yang diusulkan Syekh Arsyad tersebut merupakan tempat kedudukan mufti. Mufti bertanggung jawab untuk memberlakukan hukum Islam di masyarakat dan Kesultanan Banjar dan bertugas menerima pengaduan-pengaduan dari hakim di tingkat pertama terhadap suatu kasus perkara. Mufti pertama yang diangkat oleh Sultan adalah Syekh Muhammad As’ad, cucu Syekh Arsyad; dan kadi pertama adalah Abu Zu’ud, putranya. Keduanya merupakan sebagian ulama yang dihasilkan dari model pendidikan pesantren yang didirikan dan dikembangkannya. Selama mereka memangku jabatan ini, Syekh Arsyad merupakan penasehat utama di bidang ini. Dan pada masa pemerintahan Sultan Tahmid Allah (1778-1808 M), Syekh Arsyad diangkat sebagai mustasyar Kerajaan (Mufti Besar Negara Kalimantan) untuk mendampingi sultan dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1994).
• Bidang Fiqih
1). Shalat Berjamaah
Para imam mazhab melihat masalah shalat berjamaah dari sisi formalitasnya saja; syarat sah, syarat wajib dan hukum formalnya; wajib, fardhu, fardhu kifayah, sunnah muakkad dan lain sebagainya, tetapi mereka jarang yang memfokuskan pada maqâsid al-syari‘ah dalam penetapan hukumnya. Dalam masalah shalat berjamaah Syekh Arsyad menekankan akan pentingnya syiar Islam di dalamnya. Syekh Arsyad menentukan ukuran syiar Islam dengan perbandingan wilayah. Menurut Syekh Arsyad jika suatu dusun yang kecil berpenduduk 30 orang laki-laki, maka wajar mereka mendirikan shalat jamaah di satu tempat. Akan tetapi apabila mereka mendiami suatu wilayah yang luas, maka tidak cukup mendirikan shalat jamaah di satu tempat. Bahkan kalau suatu penduduk kampung bersepakat untuk melaksanakan shalat berjamaah di rumah masing-masing atau di tempat yang tertutup, maka tindakan ini, menurut Syekh Arsyad belum menggugurkan hukum shalat berjamaah yang fardhu kifayah.
2) Zakat
Pendapat lebih maju yang dikemukakan oleh Syekh Arsyad dalam masalah zakat ini adalah pada sisi pendayagunaan zakat. Dia berpendapat bahwa pendistribusian zakat harus lebih diorientasikan kepada pembebasan kemiskinan yang melanda masyarakat, sehingga mustahiq zakat yang utama adalah fakir miskin. Tidak sepantasnya zakat digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif (habis seketika), tetapi harus dimanfaatkan kepada hal-hal yang bersifat produkif, sehingga mustahiq zakat bisa memanfaatkan secara berkesinambungan. Pemanfaatan zakat secara konsumtif ini tidak bisa mengangkat harkat dan martabat orang-orang fakir miskin dan tidak bisa menghapus kemiskinan yang menjadi tujuan pendistribusian zakat.
Pendistribusian zakat kepada orang-orang fakir dan miskin yang bersifat produktif ini, menurut Syekh Arsyad harus diatur dan mendapat persetujuan sultan (imam) agar distribusinya dapat terkoordinir dengan baik. Dalam rangka menciptakan efektifitas pendistribusian zakat agar tidak tumpang tindih, maka Syekh Arsyad mengajukan struktur amil zakat dan tugasnya masing-masing, mereka adalah:
01. Sâ’i; orang yang diangkat sultan atau wakilnya untuk memungut harta zakat. Syarat menjadi sa’i adalah ahli dalam bidang tersebut, muslim, berakal, baligh, merdeka, jujur dan mendengar lagi melihat.
02. Kâtib; orang yang bertugas mencatat harta zakat yang diterima dari para muzakki.
03. Qâsim; orang yang bertugas membagi-bagikan harta zakat.
04. Hâsyir; orang yang bertugas mengumpulkan para muzakki.
05. آrif ; orang yang mengenal kondisi para mustahiq zakat.
06. Hâsib; orang yang bertugas menghitung harta zakat.
07. Jundiy; pihak keamanan yang bertugas mengamankan harta zakat.
08. Hâfidz; orang yang bertugas memelihara dan menjaga harta zakat.
09. Jâbi’; orang yang bertugas menyuruh orang untuk mengeluarkan zakat.
10. Dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan setempat (al-Banjari, t.th).
3) Penguburan Mayat
Dalam penguburan mayat, Syekh Arsyad sependapat dengan Syekh Abu Zakaria Al-Anshari bahwa ukuran minimal kuburan mayat adalah apabila dapat mencegah keluarnya bau busuk dan dapat mencegah dari gangguan binatang buas. Namun dalam hal ini, Syekh Arsyad lebih menekankan perlu adanya penggalian tanah untuk kuburan tersebut, sehingga dia tidak membenarkan apabila mayat hanya diletakkan di atas tanah kemudian ditimbun tanah, meskipun hal itu sudah menghindarkan dari bau busuk dan dari gangguan binatang buas. Dan mayat tidak boleh dikuburkan pada tempat yang biasanya menjadi sasaran binatang buas.
Demi lebih menjamin keamanan dari gangguan binatang buas atau dari penyebaran bau busuk, maka Syekh Arsyad mewajibkan memasukkan mayat dalam tabala keranda (peti mati), meskipun di kalangan ulama mazhab ada perbedaan pendapat dalam masalah ini; Ulama Hanafi membolehkan, ulama Maliki melarang, Ulama Syafi’i memakruhkan dan ulama Hambali mensunahkan. Pendapat Syekh Arsyad ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kondisi geografis daerah Banjar yang berupa rawa-rawa dan masih banyaknya binatang buas. Dalam masalah ini, sebenarnya dia sependapat dengan ulama Syafi’i, yaitu memakruhkan apabila penggunaan peti mati tidak diperlukan, namun di sisi lain, dia mewajibkan ketika kondisi menutut penggunaannya.
Kedalaman kuburan yang ideal yang tidak bisa menebarkan bau busuk dan menghindarkan dari gangguan binatang buas, menurut Syekh Arsyad adalah “setumbang berdiri dan setengah hasta dengan perdirian dan hasta yang pertengahan”. Dengan kedalaman kuburan yang memenuhi syarat adalah setinggi ukuran manusia normal ditambah satu hasta atau kurang lebih dua meter.
Dalam masalah penguburan mayat, Syekh Arsyad juga memperbolehkan menempatkan dua mayat dalam satu lobang, tanpa mengurangi penghormatan dan penghargaan terhadap mayat, dengan syarat tidak bercampur antara mayat laki-laki dan perempuan. Dan mayat yang baru meninggal diperbolehkan dikubur di atas mayat lama dengan syarat mayat lama tersebut sudah benar-benar hancur, tanpa mengurangi penghormatan dan penghargaan terhadap mayat yang lama (Al-Banjari, t.th).
Karya-Karya Syekh Arsyad Al-Banjari
Guna mendukung dan memperkuat penyebaran dan pendidikan Islam di nusantara, khususnya di Kalimantan Selatan, Syekh Arsyad aktif menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam kitab-kitab yang bisa dibaca oleh para generasi berikutnya. Karya terbesar Syekh Arsyad adalah kitab Sabîl al-Muhtadîn (Jalan Orang-Orang yang Mendapatkan Petunjuk). Kitab yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu tulisan Arab ini merupakan kitab fikih Mazhab Syafi’i. Kitab ini merupakan kitab yang dipesan oleh Sultan Tahmid Allah, ditulis mulai tahun 1193 H/1779 M hingga 1195 H/1781 M, terdiri dari dua jilid yang masing-masing berisi 500 halaman (Burhanuddin, 2002; Pijper, 1987).
Kitab-kitab fikih lainnya adalah Luqthah al-Ajlân, Kitâb al-Nikâh (Buku Nikah), Kitâb al-Farâidl (Buku Pembagian Harta Warisan) dan Hâsiyah Fath al-Jawâd (Komentar terhadap Buku Pembukaan Kemurahan Hati). Kitab-kitabnya dalam bidang tauhid, di antaranya: Ushûl al-Dîn (Dasar-Dasar Agama), Tuhfah al-Râghibîn fî Bayân Haqîqah Imâm al-Mu’minîn wa Mâ Yufsiduh min Riddah al-Murtaddîn (Hadiah Bagi Para Pencinta dalam Menjelaskan Hakikat Imam Para Mukmin dan Apa yang Merusaknya; Kemurtadan Orang-Orang Murtad), Qaul al-Mukhtashar fî ‘Alâmah al-Mahd al-Muntadzar (Pembicaraan Singkat tentang Tanda Imam Mahdi yang Ditunggu), dan Tarjamah Fath al-Rahmân (Terjemahan Buku Fath al-Rahmân). Sedangkan kitabnya dalam bidang tasawuf adalah Kanz al-Ma’rifah (Gudang Pengetahuan). Di samping itu, dia juga menulis Mushaf al-Qur’an dengan tulisan tangan Syekh Arsyad dalam ukuran besar yang hingga sekarang masih dipajang di dekat makamnya.

Sumber : http://ceritaparakekasihallah.blogspot.co.id

Minggu, 28 Mei 2017

Selasa, 16 Mei 2017

Minggu, 14 Mei 2017

Sejarah SMK Nahdlatul Ulama Balikpapan

Tidak ada komentar:
Yayasan Pondok Pesantren Modern (YPPM) Al Muttaqien adalah sebuah Yayasan Pendidikan yang memiliki jenjang pendidikan dari tingkat Roudlotul Atfal (RA)  sampai dengan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), dimana sebagian besar siswa/siswinya bermukim di pondok pesantren modern Al-Muttaqien .

YPPM  Al Muttaqien belum memiliki jenjang pendidikan Lanjutan Tingkat Atas sedangkan minat Siswa/Siswi Lulusan MTs Al Muttaqien sangat tinggi untuk dapat melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Al Muttaqien  Atas pertimbangan tersebut maka YPPM Al muttaqien Balikpapan bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Balikpapan mendirikan SMK NAHDLATUL ULAMA BALIKPAPAN yang berlokasi di lingkungan Pondok Pesantren Modern Al Muttaqien.

Selain itu, yang juga melatar belakangi pendirian SMK NAHDLATUL ULAMA BALIKPAPAN adalah pemikiran bahwa pendirian sebuah Sekolah Umum Kejuruan merupakan suatu keniscayaan atas kebutuhan umat Islam kelak yang diharapkan mampu mencetak siswa-siswi yang menempati posisi strategis di dunia bisnis dan industri. Mampu mengembangkan semangat keislaman ala Ahlussunnah wal Jama'ah di tempat mereka bekerja serta menjadi pribadi yang mandiri dan kuat dalam memegang nilai-nilai keislaman.  Berpijak pada semua itulah, maka pada tahun 2008 berdirilah SMK NAHDLATUL ULAMA BALIKPAPAN yang diharapkan mampu mewujudkan cita-cita tersebut.

Sumber: smknubalikpapan.sch.id

Sarana Dan Prasarana SMK NU Balikpapan

Tidak ada komentar:


1. Ruang belajar (kelas) yang representatif
  • Kelas X Multimedia
  • Kelas XI Multimedia
  • Kelas XII Multimedia
  • Ruang kelas lainnya
2. Ruang Perpustakaan
3. Laboratorium (Lab) Multimedia
  • Sarana Multimedia yang memadai
4. Ruang Kepala Sekolah
5. Ruang Guru
6. Ruang Lobi (Tamu)
7. Sarana Olahraga
8. Sarana Ibadah
9. Asrama Putra dan Putri
10. Kantin sekolah
11. Kamar mandi / toilet
12. Parkir

Visi Misi SMK NU Balikpapan

Tidak ada komentar:
VISI DAN MISI SMK NAHDLATUL ULAMA BALIKPAPAN
VISI
  • Menyiapkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang terampil, inovatif, kreatif dan berakhlaqul Karimah yang mampu bersaing dan mandir
MISI
  • Menjadikan tamatan siap untuk mengisi era global
  • Mengembangkan sekolah berbasis pada kemampuan sekolah sendiri, dan dukungan masyarakat
  • Menjadikan lembaga sebagai pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Terpadu (PPKT)  
  • Merepresentasikan perjuangan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU yang meliputi seluruh aspeknya, kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
  • Melaksanakan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah sebagai jatidiri pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama.
SEMBOYAN
  • "Mendidik Generasi Muda menjadi  Profesional dan Berakhlakul Karimah"

TUJUAN
Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan.
  • Tujuan pendidikan menengah kejuruan  adalah meningkatkan kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan  lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Tujuan SMK NU Balikpapan
  • Menyiapkan lulusan yang  berkompetensi untuk memasuki lapangan kerja .
  • Menyiapkan lulusan agar mampu berkarir, berkompetisi dan bersifat profesional.
  • Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia kerja berskala global
  • Menyiapkan lulusan agar menjadi warga negara yang produktif, adaptif, dan kreatif
  • Mempersiapkan peserta didik menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri serta mengisi lowongan pekerjaan yang ada di DU/DI sebagai tenaga tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian
  • Membekali peserta didik agar mampu mengembangkan sikap professional dan berkompetensi dalam bidang keahliannya
  • Menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
  • Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mengembangkan diri baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
 
back to top